Intifadah Tak Bisa Dipadamkan, Rakyat Palestina Terus Melawan

CSL4ZwHUAAAEY0C

Rakyat Palestina bersatu, tanpa membedakan usia, jenis kelamin, dan afiliasi politik. Itu menjadi pertunjukan solidaritas. Apapun namanya, intifada atau bukan, yang jelas perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel terus memanas.

Perlawanan terus tumbuh di kalangan generasi muda Palestina. Mereka tahu kalau yang dilawan adalah tentara Israel sebagai kekuatan militer bersenjata canggih. Meski demikian, mereka tidak menyerah.

Bagi mereka, perlawanan menjadi jalan untuk menjadikan Palestina sebagai negara yang berdaulat dan merdeka. ”Ini pertama kali saya melihat anak muda, orang tua, perempuan, lelaki, berdemonstrasi melawan pendudukan Israel,” tutur Ehab Iwidat, mahasiswa Universitas Birzeit, kepada Al-Jazeera . Sebagian besar demonstrasi damai kerap berujung pada kekerasan yang dilakukan pasukan Israel.

”Banyak orang kaya yang mau melawan Israel bersama dengan warga miskin,” imbuhnya. Perlawanan itu dipelopori generasi Oslo Palestina. Generasi Oslo yakni anak muda Palestina yang tidak memiliki pengalaman atau mengalami peristiwa Intifada sebelumnya. Mereka hanya tahu bahwa mereka itu penduduk kelas kedua karena hidup dalam pendudukan Israel. Kebebasan mereka dibatasi, kerap mendapatkan perlakuan kasar dari pemukim Israel, dan melihat darah rakyat Palestina bercucuran setiap hari.

”Aksi kita karena tindakan para pemukim Israel yang mewakili kebijakan pemerintah pendudukan,” kata Iwidat. Demonstrasi terjadi di Yerusalem, Jalur Gaza hingga Tepi Barat pada bulan ini. Ribuan warga Palestina turun ke jalan. Mereka ingin menunjukkan rakyat Palestina masih bersatu dan menunjukkan solidaritas untuk melawan penduduk militer Israel. Dari demonstrasi itu memunculkan ide bahwa Palestina menyiapkan Intifada ketiga.

Mereka menyanyikan lagu antipendudukan dan mengibarkan bendera Palestina. Pemicu utama munculnya gerakan itu karena Israel melakukan tindakan provokatif terkait Masjid al-Aqsa. Hanya muslim yang diizinkan untuk beribadah di sana sesuai dengan kesepakatan. Kendati demikian, Israel secara sepihak mulai mengizinkan kelompok sayap kanan Yahudi untuk beribadah di tempat suci tersebut. Karena itulah, rakyat Palestina melawan.

”Saya tidak melihat Al-Aqsa sebagai simbol agama. Itu adalah simbol budaya. Itu simbol kekayaan kita dan identitas Palestina. Itu simbol kehidupan sosial kita,” kata Hala Marshood, 24, aktivis politik yang tinggal di Yerusalem. Banyak demonstrasi perlawanan dikabarkan melalui media sosial.

Media sosial menjadi metode yang paling efektif dalam menggelorakan perlawanan anak muda. Itu bisa menggerakkan warga Palestina untuk bersatu dan berjuang bersama. Mereka bergerak tanpa dikomando pemimpin pemerintahan Palestina atau faksi politik. Adapun, Fatah dan Hamas masih berdiam diri. Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga hanya menyarankan demonstrasi digelar dengan damai.

”Salah satu yang unik dari gerakan ini adalah demonstrasi dilakukan anak muda. Tidak ada politisi yang terlibat. Kita tidak bekerja sama dengan partai politik, semua orang bisa datang untuk berdemonstrasi,” kata Presiden Dewan Mahasiswa Universitas Birzeit Saif Al- Islam Duglas. Perpecahan politik Palestina menjadi penyebab utama kekecewaan para pemuda Palestina. Turunnya anak muda dalam perlawanan terhadap Israel menjadikan cambuk bagi partai politik Palestina yang mulai ditinggalkan massa. Perjuangan bukan hanya milik pemerintah dan partai politik, tetap gelora anak muda Palestina.

”Sebagian besar gelombang demonstrasi, baik jangka pendek atau panjang, dilakukan secara spontan. Itu semuanya dilakukan anak muda dan tanpa terorganisir dengan matang. Itu menjadi hal aneh atau pengecualian karena tidak ada organisasi politik di belakang aksi demonstrasi seperti itu,” kata Ghassan Khatib, analis politik dari Universitas Birzeit. Hingga kemarin 56 rakyat Palestina tewas pada Oktober ini. Mayoritas korban tewas akibat serangan tentara Israel.

Hanya tujuh warga Israel yang tewas. Israel bukan hanya membunuh warga Palestina, mereka juga menghancurkan sejumlah rumah milik warga yang terlibat dalam aksi demonstrasi. Langkah itu mendapatkan kecaman dari kelompok pegiat hak asasi manusia (HAM). ”Menghancurkan rumah itu melanggar Konvensi Jenewa,” demikian kecam organisasi pemantau HAM Al- Haq.

Beberapa pemimpin Israel, termasuk wali kota Yerusalem, meminta warganya membawa senjata. Bulan lalu, pemerintah Israel memperbolehkan penggunaan peluru tajam untuk menghadapi demonstran Palestina. Menurut Nur Arafeh, peneliti dari Al-Shabaka, upaya keras Israel justru akan memicu perlawanan rakyat Palestina yang lebih keras. ”Israel melegalkan pembunuhan rakyat Palestina akan memicu perlawanan melawan ketidakadilan,” tuturnya.

Kemudian, Rima Awwad, anggota Koalisi untuk Yerusalem, mengatakan bahwa peningkatan intensitas kerusuhan menunjukkan tingkat kekecewaan yang semakin tinggi. ”Pemimpin Israel mencoba untuk menenangkan pemukim Yahudi dengan kekerasan terhadap rakyat Palestina,” ungkapnya.

Sementara, jika jumlah korban warga Palestina terus meningkat, demonstrasi akan semakin besar. Partai politik juga sepertinya akan ikut terlibat. ”Gerakan ini membutuhkan kepemimpinan politik. Hingga kini,belum ada kepemimpinan politik. Tapi, itu membutuhkan pemimpin politik untuk mengorganisir dan mewakili tuntutan Palestina,” kata Issa Amro, aktivis politik di Hebron, Tepi Barat. Meski demikian, Amro berpandangan bahwa pemimpin politik di tingkat pertama tidak akan turun tangan. Dia menganggap pemimpin politik sudah lelah.

”Lambat atau cepat, jika gerakan terus berlanjut, saya percaya kepemimpinan di garis kedua atau ketiga partai politik akan memimpin dan terlibat,” tuturnya. Beberapa demonstran menganggap aksi para pemuda Palestina itu sebagai Intifada, gerakan perlawanan yang muncul pada 1990-an dan 2000-an. Menurut Khatib, terlalu dini untuk membandingkan gerakan yang masih sangat baru itu dengan Intifada. ”Jika Intifada termasuk perlawanan yang berkelanjutan, meluas dan populer, saya tidak berpikir gelombang gerakan pemuda kali ini akan menjadi Intifada (ketiga),” katanya.

Menurut Khatib, gerakan perlawanan umumnya terjadi di Yerusalem. ”Itu hanya reaksi terhadap upaya Israel untuk mengubah status quo Masjid al- Aqsa. Itu tidak menyebar ke seluruh wilayah Palestina,” ungkapnya. Dalam pandangan aktivis, mereka tak peduli gerakan itu menjadi Intifada atau tidak.

”Saya tidak suka memberikan label atas perjuangan kita,” kata Marshood. Dia mengaku belum lahir saat Intifada pertama dan masih kecil ketika Intifada kedua berlangsung. ”Kita akan meningkatkan skala demonstrasi perlawanan dengan kekuatan yang lebih besar,” imbuhnya.

source: koran-sindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *