Aku, Sepenggal Hujan dan Sedih

Pagi, hujan datang membasah. Usai shalat subuh aku segera menyelesaikan skenario pertama buat acara Ramadhan nanti di Radio Tarbiyah kerjasama dgn FLP Jatim. Langit Suarabaya sedikit gelap, menambah hatiku berasa. Malam tadi aku mampir ke sahabat yang rencananya akan berangkat ke Aceh hari ini. Sebuah LSM akan membawa dia dan misi kemanusiaan ke sana.

Ingatanku melayang sebulan lalu. Sebuah sms masuk “Ukh mau ke Aceh?” dia menawariku karena tahu aku ingin berangkat ke Aceh sejak lama. Segera kujawab “Mau!” Aku pikir masih punya waktu sebulan buat jadi relawan ke sana. Sebelum aku kembali berkecimpung di dunia sekolah. Tapi….dia bilang “Kita berangkat untuk waktu tak tentu..bisa sebulan, dua bulan, enam bulan…”

Aku terpekur menatap langit-langit rumah seorang ummahat. ” Kamu punya banyak kelebihan.. dan akan bisa bermanfaat disana. Ketrampilan yang kau miliki mungkin sangat berarti nanti, apalagi kamu guru” Aku diam saat itu. Bimbang. Aku tak bisa mengajar di sekolahku sekarang ini nanti. Tentunya aku tak bisa cuti dalam jangka waktu lama dan dengan alasan jadi relawan. Kepalaku berputar bingung. Aku ingin membangun sesuatu di sini, tapi Aceh adalah negeri yang ingin aku datangi. Dilema. Dan akhirnya dengan berat hati aku memutuskan “Ukh aku mundur..afwan!” tulisku di sms. Sahabatku meyayangkan keputusanku. hatiku bergeming. pedih sebenarnya.

Dan sepotong martabak manis kutinggalkan di sisi tas kopernya semalam. Aku pergi ke asrama Mujahidah dengan sepotong cinta.
Menatapnya sebelum dia pergi..tapi dia tidak ada. Pulsaku habis. Tak terhubung dia dimana. Pagi ini disela rintik kutitip doa selamat jalan sahabat, selamat berjuang…salamku untuk Aceh tercinta.

Uchan, Rumah Syifa juli 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *