Cinta Mencari Kota 2

Kota ini bukankah kota mimpi, walau pernah hadir dalam mimpi Cinta sekian tahun lalu. Cinta tak suka negeri mata sipit, bekas penjajah negerinya yang banyak meninggalkan bekas luka parut masa lalu.

Apa yang dibaca dalam sejarah dan juga cerita orang tuanya,  cukup sudah mengukir laksa kebencian.  Kakek  saja yang tak pernah bicara. Baginya kisah lalu tentang nenek tak perlu diungkit.  Cinta tetaplah cinta. Walau luka yang di dapat dalam kesejatiannya.  Ya, Kakek  mencintai Sumi.  Sangat.  Sumi  yang notabene nenek Cinta dinikahinya namun terpaksa melahirkan anak penjajah.  Dan prasasti itu terus membekas. Ditambah kepergian Sumi yang menyakitkan.  Cinta benci mengingat itu.  Ada darah mengalir di dalam tubuhnya. Berjuta kali dia meneriakkan dendam atas kehadiran dirinya di muka bumi ini. Ketika semua orang desanya menudingnya sebagai keturunan penjajah. Cinta mengguguk pedih. Genangan sungai di ujung mata, dia biarkan mencari jalan. Aku benci! Tatapnya pada langit biru di atas langit Sumida. Jilbab putihnya berkibar di hempas angin yang membuih.

Aku benci!!!.. ”
Aku mengapa di sini!!!” teriaknya sepenuh jiwa.
Tak ada orang lain di tempat ini.
Rasa sudah pergi sejak kemaren petang. Kembali ke Saitama. Kuliah.
Cinta terpuruk. Terduduk diantara ilalang yang mulai kering. Mati oleh musim yang kan berganti. Kota belum juga ketemu. Dimana kota? Sampai kapan aku di sini? Bisik Cinta pedih.

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *