DUA HATI DAN LANGIT AL AQSHA

Langit Al Quds malam ini sangat indah. Seperti malam-malam sebelumnya. Mungkin juga malam-malam sesudahnya. Apapun warnanya, aku selalu ingin menikmatinya. Aku sedang di kompleks masjid Al Aqsha kini. Di taman yang berada diantara kubah Al Aqsha dan Sakhra. Di kanan punggungku, adalah potongan langit yang paling kusukai. Langit di atas kubah al Aqsha. Juga Langit di atas Kubah Sakhra yang ada di sebelah kiriku. Potongan langit yang selalu membuatku tak bisa memaksa langkah untuk segera pulang. Selepas Shalat Isya aku selalu berlama-lama di sini. Hamparan rumputnya di selingi beberapa pohon tinggi. Di malam hari siluetnya terlihat berbentuk segitiga dengan puncak yang bersudut sempit.

Taman ini terletak diantara Masjid AL Aqsha dan Sakhra. Gelap. Lampu taman yang terbatas tak cukup mampu menerangi setiap bagiannya. Tapi dengan demikian bintang-bintang di langit terlihat makin cemerlang.

Masih ada saat-saat menakjubkan lainnya, yaitu ketika menjelang magrib dan selepas subuh. Tapi, langit yang menembaga itu hanya bisa kunikmati sembari berjalan dalam gegas yang ritmik. Itu bukan waktu yang tepat untuk menikmatinya bukan ?. Tentu saja. Sebab aku harus segera menuju Masjid untuk shalat magrib, atau segera pulang selepas subuh. Toko Ami Jaber menungguku setiap pagi.

Ketika langit berwarna tembaga, setiap kepingnya seakan-akan menampilkan Imad Aqil, Shalah Syahadah dan barisan panjang syuhada lainnya tersenyum dengan gagah. Juga Ustadz Ahmad. Guruku yang syahid belum lama ini. Langit yang berrona jingga itu seperti kemarahan tak berujung pada tiap darah muslim yang tertumpah di bumi Palestina. Merah itu menelusup didadaku. Menggedornya dengan amat keras. Mencipta geletar yang menusuk-nusuk sepanjang pagi, siang, malam hingga pagi berikutnya. Begitu terus setiap hari. Kurasa itu tak akan pernah berakhir hingga luka Palestina terobati pada hari pembebasannya kelak. Aku berharap saat itu aku turut menyaksikan rona langitku yang berubah menjadi… menjadi seperti apa ya ? Yang pasti, semakin indah. Ya, jika kini ia sangat indah, maka di hari kebebasannya tentu akan semakin indah. Mm… Langit Al Aqsha… ini adalah senyumku untukmu.

Assalamu’alaikum. Aku harus pulang sekarang. Teman-teman sudah pulang terlebih dahulu ba’da Isya tadi. Kupikir kak Izzah mulai khawatir menungguku di rumah. Ups… maksudku kemah. Ya, kami sudah tidak punya rumah. Kemarin malam aku dapati ia di depan kemah dengan wajah cemas. “Lain kali pulang lebih cepat. Dari sini pun kau bisa melihat langit Al Aqsha dengan cukup jelas” ucapnya waktu itu. Bagi kak Iz usiaku yang hampir sepuluh tahun ini tak cukup meyakinkan untuk ‘menjaga diri’. Padahal aku sudah berulangkali meyakinkan bahwa seorang lelaki telah mandiri sejak usia tujuh tahun. Ustadz Akhmad selalu ingin aku cepat dewasa.

Lari-lari kecilku telah mengantarkanku pada puluhan kemah yang berdiri kokoh dalam kerentaan dan ketercabikan yang tak pernah berarti apa-apa di hati kami. Ini adalah kehidupan kami. Kami bersukur dengan segala keterbatasannya. Tidak setiap muslim mendapatkan kepercayaan dariNYA untuk menjaga Al Quds. Menjadi penduduk kota suci ini adalah nikmat yang selalu terasa manis meski genangan darah menenggelamkan generasi islam negeri ini.

“Ah…!” beberapa meter di depan kemahku aku terpekik sembari menepuk dahi dengan reflek. Lariku makin menggegas seiring desir rasa bersalah yang begitu cepat berkembangbiak sebab kak Iz kembali terlihat cemas menungguku seperti kemarin.

***

“Assalamu’alaikum” Suara ramah menghentikan gerak tanganku yang memindahkan tepung gandum dari sebuah kontainer plastik ke dalam kantong-kantong kertas kecil. Mengemas gandum adalah aktifitas tetapku setiap pagi setelah membuka toko dan merapikan letak beberapa barang dagangan.

“’Alaikumsalam” jawabku sembari memperhatikannya dengan seksama. Kelihatannya cuma beberapa tahun di atasku. Mungkin 12, 13 atau 14 tahun. Wajah, kulit, rambut… semuanya terlihat baru bagiku. Ia berbeda. Karena itulah secara reflek aku memandangnya beberapa detik sebelum kemudian menanyakan apa yang dibutuhkannya. Ia terlihat bingung meski senyumnya tak pernah lepas.

“Mm… Do you speak english ?” ucapnya kemudian. Kali ini aku yang garuk-garuk kepala. Tanpa menunggu jawabanku ia melanjutkan kalimatnya sembari menunjuk sebuah roti dan Anggur. Bahasa inggris. Aku pernah mendengar bahasa ini dari beberapa yahudi. Banyak bahasa yang meraka gunakan. Bahasa inggris hanya salahsatunya.

Tapi anak ini muslim. Lagi pula tak sedikitpun terlihat seperti yahudi. Bukan yang berkulit gelap, bukan juga yang berambut pirang. Juga bukan yahudi dari kalangan penduduk Arab. Kulitnya bersih meski berwarna agak coklat. Rambutnya hitam dan lurus. Ia menggunakan penutup kepala berwarna hitam. Bentuknya aneh. Silinder ? Ah… tidak juga. Bagian depan dan belakangnya menyudut. Jadi tidak melingkar sepenuhnya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *