Kelahiran Muhammad Faris Jihadi

Cerita ini tentang kelahiran anak pertamaku. Kuharap kamu gak keberatan membacanya …

Biar bisa merasuk cerita ini, kita kilas balik beberapa hari sebelum persalinan. seperti biasa kalo orang mo melahirkan. Kita, aku dan nyonya (*ceileee…), juga mempersiapkan semuanya tentang persalinan termasuk tempat melahirkan.

Pilihan jatuh di klinik Pura Raharja, daerah Pucang Surabaya. Kata orang klinik itu bagus, dan udah pengalaman bertahun-tahun. Jadi dijamin lancar deh. Kita ke sana ketika istri bukaan satu, sekalian mo jemput teman yang juga melahirkan disana. ternyata kita nggak ketemu and di suruh pulang lagi, karena masih agak lama melahirkannya (masih bukaan satu….katanya).

Ketika pulang ada teleppn dari teman istri, kalau dia sudah melahirkan. Tidak di Pura, tetapi di RSI 2. Tahu kenapa kok pindah ? Soalnya disana benar-benar ‘nguawur pol’. Masak belum apa-apa temenku itu disuruh caesar aja, alasannya karena tim cesarnya mumpung ada di situ. Apa gak kurang ajar !!!?

Akhirnya dia pindah langsung. Bayangkan prend, bukaan udah 3/5 usung-usung lagi pindah tempat. Bukaan segitu kontraksi sudah sering, otomatis rasa sakit juga bertambah-tambah, tidak terbayang pasti sakitnya. Aku dan istriku langsung tersenyum kecut mendengar itu.

So kita juga pindah ke RSI 2 … dan disini lah cerita ini berlanjut. Bagaimana derita dan pengorbanan seorang istri yang luar biasa, resah dan gelisahnya suami melihat perjuangan hidup dan mati.

==

Jam 4 sore aku dan istriku masuk ke RSI 2. Kita mengambil kelas 3 yang paling murah. Dibantu bidan waktu itu istri udah kontraksi setiap 10 menit sekali. Sekitar bukaan 3 di sana kita bertemu ama Kirana, teman yang habis melahirkan di sana. Kita memilih kamar yang bersebelahan denganya, secara psikologis menguatkan istri karena ada teman yang lebih pengalaman melahirkan biarpun cuman selisih sehari.

Kontraksi istriku semakin lama smakin sering. Keringat dingin terus membasahi kening putihnya, rasa mulas di perutnya menjalar hingga ke punggung dan pinggangnya. Sakitnya udah terasa di semua tubuh terkadang mulutnya mengerang lemah. Sekitar pukul 20.00, saat kontraksi sudah sektiar empat lima menit dia dipindahkan ke ruang persalinan. Ruangan ini seukuran 3×9 meter. Ada dua meja pasien di sisi kanan dan kiri saat itu, sisi kiri sudah ditempati orang lain, terdengar dari sebuah rintihan dan erangan. Istriku otomatis menempati sisi kanan denga sekat plastik yang memisahkan.

Begitulah, sejak saat itu dua orang wanita ini seakan berlomba, bedanya jika yang disana orangnya rintihannya sudah tak berbentuk rintihan lagi tapi teriakan menjerit-jerit, sedang istriku hanya mengerang lemah.

Bercucuran keringat di dahinya, padahal AC di ruangan ini tak pernah berhenti. Segera kuusap dia dengan penuh cinta. Kukatakan kata-kata hiburan penyejuk, kutuntun mulutnya utk berdzikir dan mengingat Allah, kusabarkan dan kuingatkan tentang keutamaan orang yang melahirkan, tentang jihad seorang wanita dan pahalanya.

Detik demi detik merambat hingga tengah malam, kontraksi semakin lama semakin cepat kali ini erangannya berubah menjadi rintihan agar tak seribut orang sebelah, tapi cukup membuat hatiku dag dig dug. Dengan hati resah kupanggil bidan yang kerepotan menolong sebelah yang ributnya bukan main. Dilakukan pemeriksaan dalam utk mengetahui bukaannya. Sekitar pukul 10 bukaan sudah 7, segera bidan mempersiapkan peralatan melahirkan. Perkiraannya waktu kelahiran akan berbarengan dengan orang di sebelah.

Tak lama kemudian dokter dari orang sebelah datang dan segera menangani. Tak kurang sepuluh menit dia datang suara tangis bayi pun bergema di ruangan 3X9 ini, subhanallah … tangisan itu begitu menggetarkan dadaku bergemuruh tanpa sadar tanganku menggenggam erat jemari tangan istriku. Saling menguatkan, tak sabar rasanya aku menunggu kelahiran anakku sendiri.

Sementara itu seolah mendapat kekuatan tersendiri bayi dlm kandungan istriku juga semakin keras bergerak ingin keluar. Kontraksi sudah demikian hebatnya, bidan pun sudah menangani istriku setelah sebelumnya tangannya berlepotan darah dari orang di sebelah. Dilihatnya dan dilakukan pemeriksaan lagi diceknya sekali lagi … belum..belum… bukaan masih tujuh mau ke delapan. Ah…belum ya…ternyata belum… sejak saat inilah keanehan mulai terjadi. Kontraksi istriku yang telah memuncak tadi berangsur-angsur mulai berkurang. Sekitar pukul 11.00 bahkan kontraksinya mulai jarang, justru diantara sela-sela pahanya terasa seeeer….seeeer keluar air. Segera kuberitahu si bidan. “Ah ini lendir pak…gak papa…ditunggu aja”, kata si bidan.

Begitulah…kontraksi sudah mulai berkurang rasa sakit sudah banyak berkurang mukanya sudah tak sepucat tadi akupun mulai agak tenang tapi aku merasakan keanehan.

kenapa ini? kenapa kontraksi istriku kok malah berkurang? jarak kontraksinya semakin lama dan lama ah…mungkin kayak gini emang biasa, pikirku saat itu abis gimana lagi… ini kan pengalaman pertamaku ada di sini

ruangan ini pun jg mulai sunyi kalo tadi dipenuhi dengan teriakan dan rintihan orang sebelah dan istriku skr udah tak terdengar sama sekali hanya sesekali istriku mengerang lemah

terus begitu…. hingga jam setengah satu saat itu istriku mengeluh…rasa sakitnya berpindah kalo tadi di perut dan di bawah….skr ini pindah kepinggang tanganku pun pindah tak lagi mengelus dan memijat punggungnya beralih kupijat dengan lembut pinggangnya tapi dia masih mrs sakit… ditambah seeer…seeernya masih terus keluar

yaa…jam setengah satu kupastikan jam di hpku ketika bidan itu memeriksa lagi dibukanya selimut yang menutupi perut dan bag bawah istriku masyaAllah….. ketika itulah aku melihat pemandangan yang membuat

jantungku seolah berhenti berdetak pernahkah kamu melihat perut seorang wanita yang hamil? pernah? gimana bentuknya? bulat bundar kan!!! seharusnya perut istrikupun seperti itu… yakin krn beberapa menit yang lalu pun seperti itu tapi kini keadaanya sungguh sangat berbeda

perutnya nampak bergelombang…kulit perut yang ketat dan agak mengkilap

itu sekarang mengendur dan menampakkan bentuk dr isi yang ada di dalamnya PERUT ISTRIKU KEMPES….saudara segera ku berisghfar….ternyata seeeer….seeeer yang dirasakan sedari tadi oleh istriku adalah air ketuban yang pecah dan keluar

==

aku terpana menyaksikan semua itu apa yang terjadi? kenapa perut istriku kempes begitu? bayinya???!!? bayinya??? gimana bayinya? apa…apa dia….ddddia masih hidup?

aku seolah terpaku ditempatku berdiri sampai kutersadar saat istriku memandang penuh tanya ada apa? lemah kutangkap kata dari pandangan matanya ndak…ndak papa ayi (adik -red(sunda)) sayang ayi ndak papa…kok ah aku harus kuat… aku harus menjaganya tetap kuat kutahan air yang menggantung di sudut mataku

bidan yang menangani saat itu bertindak cepat segera dikeluarkannya ECG (elektrokardogram) utk melihat kondisi bayiku dipasang pada sekitar ulu hati dan perut
tak lama terdengar bunyi detak jantung yang keras dari alat itu istriku mulai gelisah…dia bertanya2 gimana hasilnya apa gak papa jantung anakku terus dipantau kadang naik kadang turun kalo turun bunyinya dag……dug……dag……dug……dag……dug…… kalo naik dag..dug..dag..dug..dag..dug..dag..dug.. alhamdulillah….anakku masih hidup biar suaranya bikin background sound yang mencekam tapi gak papa itu tanda anakku masih hidup

kondisi ini terus terjadi sampek datang dokternya jam saat itu menunjukkan pukul 02.30 sebentar aja dia meriksanya. gak sampek 15 menit katanya dari hasil pemeriksaan dalam diketahui kalo posisi kepala bayi

menengadah ke atas jadinya bukaan nggak bertambah2. plus panggul istri sempit….sehingga bayi gak turun turun kondisi ketuban sudah pecah… air ketuban udah berwarna hijau artinya sudah bercampur beraknya bayi….dan kalo sampek terminum bayi

akan sangat berbahaya kondisi seperti ini sudah berlangsung 4 jam rekomendasi satu2nya harus dioperasi caesar

kegelisahanku sejak melihat kondisi perutnya memuncak benar….ini berbahaya…sangat berbahaya aku tak perlu menunggu waktu lama utk mengiyakan segera mereka menyiapkan semuanya… team dokter terdiri dari dokter kandungan, anestesi, dan dokter anak plus kamar operasi, peralatan medis dan sebagainya sekitar setengah jam pada dini hari itu semuanya sudah siap

kurasakan saat itu genggaman istriku semakin erat dari tangannya mengalir seakan penuh getar rasa ah…dia tampak begitu kuat dimataku kubelai rambutnya….kuhapus keringat dikeningnya kukatakan agar dia ikhlas dan teruuuuss….mengingat Allah

ah… saat pintu kamar operasi tertutup hatiku seolah ikut terbang bersamanya kegelisahan dan kekalutanku sedari tadi kembali memuncak seluruh badanku terasa lemas
aku tau harus kemana….. saat-saat seperti aku tak berdaya apa2 tak ada yang bisa kulakukan.

aku harus bertemu Rabbku ingin kuadukan semuanya padaNya dan begitulah di sudut kecil rumah sakit akhirnya bendungan itupun jebol tangisku mengalir tanpa kutahan-tahan lagi setiap kata al Fatihah membuatku tersedan tiap sujudku kupasrahkan semuanya pada Allah persis ketika kuakhiri rakaat tahajudku, mertuaku
memanggil katanya anakku udah dilahirkan….. Allahu Akbar Alhamdulillah dan sekarang aku dipanggil utk mengazani anakku seolah terbang…aku berlari masuk ICU
Allah…alhamdulillah masih dengan linangan airmata aku adzani kuping kanannya ku qomati kuping kirinya kurasakan gemetar bibirku saat mengucapkannya saat kudengar keras tangisnya…pucat badannya subhanallah…maha suci Allah

kelegaan yang luar biasa kurasakan sujud syukurkupun rasanya tak mampu mengungkapkan semuanya apalagi dikemudian….istriku juga selamat Allahu Akbar….

begitulah teman… kutulis ini dengan kejap airmata
dgn asa untuk syukurku selalu atas kebesaran Allah

semoga ada guna dan manfaatnya

wass wr wb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *