Membentuk Anak Berkarakter

Pendidikan berbasis karakter sedang menjadi tema hangat akhir-akhir ini. Seminar, pelatihan dan workshop banyak diadakan untuk mensosialisasikan bagaimana pendidikan berbasis karakter. Bahkan diknas pendidikan pun sudah meluncurkan Rencana Pengajaran (RPP) yang berbasis karakter untuk mendukung pembentukan generasi penerus bangsa mendatang.
Banyak pihak yang mewacanakan bahwa generasi yang mampu bersaing di masa mendatang adalah generasi yang mempunyai good character,dan tak hanya cerdas semata.

Adalah sebuah generasi yang jujur atau punya integritas, dapat dipercaya, berani mengambil risiko, terampil menyelesaikan masalah, mampu bekerjasama dengan orang lain,senang belajar, komunikator yang efektif, dan luwes yang bisa bersaing kelak.

Lalu apa hubungannya anak berkarakter dengan sholat.

Shalat merupakan amal yang pertama dinilai oleh Allah di yaumil qiyamah, amal yang paling besar pahalanya dan meninggalkannya merupakan dosa yang besar. Shalat adalah wasiat terakhir dari Nabi Muhammad saw dan seharusnya merupakan ajaran pertama kepada anak-anak kita.

Dalam sebuah Talk Show Keluarga ”Bila Anakku Senang, Ia Akan Lebih Bertanggung Jawab” di Surabaya 5 Juni yang lalu, Dra.Ery Soekresno,Psi,M.Sc (Ed) bercerita bahwa beliau pernah menterapi seorang anak bermasalah dalam waktu kurang dari 6 bulan.Yang beliau lakukan adalah dengan mengajak anak tersebut menegakkan sholat, membenarkan gerakan sholat, memantau bacaan sholat dan terakhir memperkuat hafalan al qur’an. Subhanallah, sekarang anak tersebut menjadi anak yang bertanggung jawab, mandiri dan sholeh kepada kedua orang tuanya.

Kalau kita cermati lebih dalam ada beberapa karakter yang akan terbentuk ketika kita membiasakan putra-putri kita menjaga sholatnya dan terbiasa tepat waktu dalam sholat.

  1. Kedisiplinan. Dalam sehari minimal sholat dilakukan 5 kali. Ketika anak terbiasa menjaga sholat, anak akan terbiasa mengatur waktu. Dia tahu kapan saatnya sholat dan kapan boleh mengerjakan aktivitas yang lain. Dalam sehari, minimal anak terlatih mempunyai 5 jadwal waktu yang tetap untuk sebuah aktifitas yaitu waktu shubuh, dhuhur, asar, maghrib dan isya.
  2. Kejujuran atau mempunyai integritas. Anak yang terbiasa menjaga sholat akan terbiasa menjadi anak yang jujur. Anak yang terbiasa menjaga sholat akan melakukan sholat ada atau tiada pengawasan. Suatu nilai tertanam dalam dirinya bahwa Allah lah yang mengawasi semua perbuatan. Maka tak akan kita temukan lagi anak yang mencontek ulangan ketika anak tersebut terbiasa menjaga sholatnya. Tak akan kita jumpai lagi anak – anak yang membuka situs internet yang tidak sepantasnya karena nilai kejujuran dan terutama perasaan senantiasa mendapat pengawasan dari Allah telah melekat dalam dirinya.
  3. Terbiasa hidup bersih. Saat hendak melakukan sholat, minimal anak membersihkan dirinya dengan berwudhu.  Selain hal tersebut anak juga harus dalam kondisi suci dan terbebas dari kondisi najis. Sehingga dalam keseharian anak akan terbiasa menjaga dirinya untuk bersih minimal terhindar dari terkena najis.
  4. Konsisten dalam menghadapi keburukan. Komunikasi yang terjaga dengan Allah dan menegakkan kewajiban dari Allah akan memberikan imbal balik bahwa Allah akan menjaga anak-anak kita. Tak mungkin kita bisa mengawasi semua tingkah laku anak kita. Ada keterbatasan waktu dan ruang untuk itu semua. Tetapi ketika anak terbiasa menjaga sholatnya, insyaAllah Allah pun akan menjaga anak-anak kita. Anak yang berada dalam penjagaan Allah akan konsisten dalam kebenaran, anak akan merasa risih dengan kemungkaran yang ada di sekitarnya. Anak pun akan malu (meski tidak ada yang melihat) ketika mempunyai niat untuk melakukan keburukan.

Wallahu alam bisshowab

 

Semoga kita diberikan generasi yang selalu menjaga dan menegakkan sholat. Sehingga terwujud generasi berkarakter baik (good character) dalam dirinya. Kelak pada suatu masa permasalahan negeri ini akan sedikit demi sedikit terkikis habis. Karena secara perlahan pemegang kebijakan negeri akan tergantikan oleh generasi-generasi yang berkarakter.

 source : tulisan ini pernah dimuat di majalah Al Uswah Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *