Tanda-Tanda Ikhlas

(Diringkas dari kitab Haula Rukn al ikhlash, karya Dr. Yusuf al Qaradhawy –hafizhahullah. Daarut Tauzi’ wan Nasyr al Islamiyah. 1993M)

Oleh: Farid Nu’man

Ikhlas memiliki tanda dan ciri-ciri yang banyak, yang nampak pada kehidupan dan perilaku orang yang ikhlas. Hal itu bisa dilihat olehnya dan orang lain. Di antaranya adalah:

1. Takut terhadap Ketenaran (syuhrah)

Orang yang takut terhadap ketenaran dan tersebarnya citra baik dirinya serta kualias agamanya, khususnya jika ia termasuk orang yang gemar memberi, meyakini bahwa amal yang diterima Allah ‘Azza wa Jalla adalah yang tersembunyi tidak dipamerkan. Bahwasanya manusia jika tertutup ketenarannya, ia hanya meniatkannya untuk Allah semata, Dialah yang akan mencukupkannya, bukan manusia.

Karena itu, zuhud terhadap kemegahan, ketenaran, dan cahaya diri, adalah lebih agung (berat) dari zuhud terhadap harta, syahwat perut, dan kemaluan. Imam Ibnu  Syihab az Zuhri berkata: Tidak ada yang kami pandang berat selain zuhud kepada jabatan. Seseorang bisa zuhud terhadap makan, minum, dan harta, maka sudah seharusnya ia ketika diberi jabatan, menjaga dan berhati-hati terhadapnya.

Inilah yang menyebabkan banyak ulama terdahulu dan orang-orang shalih, takut jika hati mereka tertimpa fitnah ketenaran, tipuan kemegahan, dan citra diri. Mereka memperingatkan hal itu kepada murid-muridnya. Telah banyak karya-karya tentang perilaku yang memperingatkan hal itu, seperti Abul Qasil al Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah, Abu Thalib al Makky dalam Qutul Qulub, dan Imam al Ghazaly dalam Al Ihya’-nya.

Seorang zahid terkenal Ibrahim bin Ad-ham berkata: Allah tidak membenarkan (mengakui) orang-orang yang mencintai ketenaran.

Dia juga berkata: Tidak ada hari yang menyedapkan pandanganku terhadap dunia kecuali sekali saja, yaitu ketika aku bermalam pada suatu malam di sebuah Mesjid di negeri Syam.Saat itu aku sakit perut, lalu datanglah juru adzan, dia menyeret kakiku hingga aku keluar mesjid.

Itulah yang yang membuatnya senang, yaitu laki-laki tersebut tidaklah mengenalnya (walau ia seorang yang tenar), itulah yang menyebabkan juru adzn itu melakuakn tindak kekerasan dengan menarik kakinya seolah-olah ia penjahat. Itulah Ibrahim bin Ad-ham, yang meninggalkan wilayah dan harta kekayaannya karena Allah Ta’ala.

Ketenaran, secara dzat bukanlah hal tercela. Tidak ada yang lebih tenar dibanding para nabi, khulafa’ur rasyidin, dan para imam mujtahid. Tetapi yang tercela adalah jika ketenaran, kekuasaan, dan kemegahan adalah sesuatu yang dicari dan  dikejar. Adapun jika ketenaran itu lahir tanpa dikejar dan dicari, maka itu tidak masalah. Hal itu – sebagaimana kata Imam al Ghazaly- menjadi fitnah bagi orang-orang lemah, tidak bagi orang-orang yang kuat.

2. Menuduh Diri Sendiri

Sesungguhnya seorang yang mukhlis selalu menuduh dirinya masih lalai dalam pengabdian kepada Allah Azza wa Jalla, sedikit menunaikan kewajiban, tidak menjaga hatinya dengan keterpedayaan amalnya, dan ‘ujub (bangga/kagum) dengan diri sendiri. Justru ia takut kejelekannya tidak diampuni, kebaikannya tidak diterima. Sebagain orang-orang shalih menangis dengan tangisan yang keras.

Ada orang bertanya: kenapa engkau menangis? Bukankah engkau telah bangun di tengah malam, puasa, jihad, sedekah (zakat), haji dan umrah, mengajar ilmu dan berdzikir? Ia menjawab: Apa yang Dia kehendaki terhadapku dari timbanganku nanti? Apakah itu akan diterima Tuhanku? Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal-amal) orang-orang bertaqwa …(QS. Al Maidah: 27)

Mata air taqwa adalah hati, karena itulah Al Qur’an menegaskan:  ….maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati (QS. Al Hajj:32).  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:  Taqwa  itu di sini (diulangi tiga kali). Ia menunjuk dadanya (HR. Muslim dari Ibnu Umar)

Aku bertanya kepada Sayyidah Aisyah radhiallahu ‘anha tentang orang-orang yang telah ‘memberi’ dalam firman Allah:  Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (QS. Al Mu’minun: 60). Apakah mereka itu para pencuri, pezina, pemabuk, dan mereka takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla ? Ia menjawab: bukan, tetapi mereka adalah orang yang shalat, puasa, dan bersedekah, namun mereka takut itu semua tidak diterima. Mereka itulah yang bersegera untuk meraih kebaikan-kebaikan,dan merekalah yang segera mendapatkannya (QS. Al Mu’minun: 61) (HR. Ahmad dan lainnya)

3. Mengutamakan amal yang Tersembunyi

Ia harus lebih menyintai amal yang tersembunyi daripada amal yang terang-terangan dan melahirkan ketenaran. Sesungguhnya ini memiliki pengaruh dalam masyarakat, seperti akar pohon yang merupakan pokok sekaligus sumber kehidupannya. Tetapi ia tertutup oleh perut bumi, tidak terlihat mata. Atau seperti fondasi sebuah bangunan. Seandainya ia tidak ada, niscaya tidak akan tegak dinding, tidak pula atap, rumah pun tidak ada. Tak ada satupun  yang  melihatnya, sebagaimana terlihatnya dinding yang tinggi.

Berkata Asy Syauqi:

Fondasi merendah, ia tidak terlihat oleh mata

Setelah ia menegakkan bangunan yang kokoh

Umar radhiallahu ‘anhu keluar menuju mesjid, ia melihat Mu’adz bin Jabal menangis di sisi makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Umar bertanya: Apa yang membuatmu menangis? Mu’adz menjawab:  Hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah, ia bersabda: Sesungguhnya riya’ (walau sedikit) adalah syirik. Dan barangsiapa yang memusuhi wali-wali Allah, maka Allah akan memeranginya. Sesungguhnya Allah menyukai kebaikan-kebaikan orang-orang bertaqwa yang tersembunyi. Yaitu orang-orang yang jika ia tidak ada manusia tidak merasa kehilangan. Jika ia hadir orang-orang tidak mengenalnya. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk, yang keluar dari tanah-tanah yang gelap. (HR. Ibnu Majah dan Baihaqy dalam Az Zuhud dan Al hakim. Katanya shahih, tidak ada cacat dalamnya)

4. Tetap Beramal Baik menjadi Pemimpin atau Prajurit

Konsisten dengan amal shalih, baik ketika menjadi pemimpin atau prajurit. Pada kedua posisi itu ia senantiasa mencari ridha Tuhannya, mengabdi pada da’wahNya, dan membela risalahNya. Tidak membiarkan hatinya dikuasai keinginan untuk terkenal, nyelonong ke shaff terdepan ketika shalat, dan gila kekuasaan serta mengejar kedudukan sebagai pemimpin.

Bagaimana pun keadaannya, ia tidak mengejar-ngejar atau menuntut untuk dirinya, tetapi jika ia diberikan tugas, ia akan mengembannya dengan berharap pertolongan Allah untuk menjalankannya dengan benar.

Rasulullah telah menyifati orang seperti ini dalam haditsnya:

“Berbahagialah hamba yang menuntun kendali untanya di jalan Allah, kepala dan kedua kakinya berdebu, jika ia dibertugas jaga maka ia melaksanakan (dengan baik dan ikhlas) dan jika sebagai pengawal pasukan di belakang ia melaksanakan pengawalan (baik dan ikhlash)” (HR. Bukhari)

Semoga Allah meridhai Khalid bin Walid yang telah rela menanggalkan jabatannya sebagai panglima pasukan, padahal ia pemimpin yang selalu memenangkan pertempuran. Akhirnya ia berperang di bawah kendali Abu Ubaidah tanpa menyesal dan gelisah.

5. Mengharap Ridha Allah, sebelum ridha manusia

Jangan pernah tergoda untuk mendapatkan ridha manusia, jika kemudian Allah murka. Sebab manusia itu memiliki perbedaan yang sangat besar, dalam perasaan mereka, pemikiran, kecenderungan, tujuan-tujuan dan metode. Maka, mengejar ridha manusia adalah tujuan yang tidak pernah tercapai, dan tuntutan yang tidak bisa dikabulkan.

Berkata seorang penyair:

Siapakah manusia yang diridhai oelh semua manusia

Padahal di antara hawa nafsu jiwa-jiwa terdapat jarak yang amat jauh?

6. Cinta dan Benci karena Allah Ta’ala

Menjadikan rasa benci dan cinta, taat dan menolak,  ridha dan marah, harus karena Allah semata dan agamaNya. Bukan karena diri atau kepentingan-kepentingan pribadinya. Janganlah berperilaku seperti kaum opurtunis munafik yang telah Allah ‘Azza wa Jalla cela dalam kitabNya.

Allah berfirman:

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya (zakat) mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, serta merta mereka menjadi marah” (QS. At Taubah: 58)

Sebagian aktifis da’wah menyaksikan, jika ada saudaranya yang dicela (oleh musuh, pen) dengan kata-kata yang menyakitkan hati atau melukai perasaannya, dengan menjelek-jelekkan dirinya atau salah satu karakternya maka dengan cepat ia marah, lalu meninggalkan aktifitas da’wah dan harakah, lalu memisahkan diri dari medan da’wah.

Ikhlas beramal merupakan tujuan yang harus terpenuhi karena itu adalah konsekuensi da’wah. Ia harus kukuh terhadap orientasinya, Bagaimanapun juga keadaan yang menimpanya,  kesalahan, kelalaian, atau sikap melampaui batas,karena ia beramal hanya untuk Allah, bukan untuk dirinya, bukan pula untuk si Fulan dan si Alan.

Da’watullah bukanlah barang atau harta milik satu orang. Da’watullah adalah milik semuanya, maka tidak boleh seorang mu’min memisahkan orang lain darinya, lantaran sikap-sikap tersebut.

Wallahu A’lam

2 Comments

  1. flozzy

    April 20, 2012 at 3:07 pm

    Artikel yang bagus,copy ya? Syukron.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *