Bait Hati Seorang Perempuan

Suatu hari, seorang perempuan menemukan bahwa dalam perjalanan hidupnya dia harus menemui sebuah kenyataan bahwa samudera pernikahannya terkena badai dan karenanya ia harus berpisah dengan belahan jiwanya

Dia teringat pada masa lalunya ketika dia pertama kali mengenal perjalanan spiritualnya. Sebuah perjalanan yang mengajarkan kepadanya untuk tunduk menjaga mata, membungkus rapi auratnya dan menata setiap gerak hatinya.

Perempuan itu juga mengingat dengan baik dan merekamnya dalam ingatan terdalam bagaimana keinginannya yang kuat untuk memilih belahan jiwanya kelak hanya dengan lenteraNya. Bukan hanya harta dan rupa.

Kepada seorang yang saleh perempuan itu bertanya, apakah yang salah dengan dirinya. Orang saleh itupun menjawab, tidak ada yang salah dengan semuanya. Dalam perjalanan spiritual, lubang yang terbentang, ombak yang menghantam dan jurang yang menghadang pada hakikatnya adalah proses untuk pembentukan menara keimanan dan sutera kesabaran.

Perempuan itupun semakin terbenam dalam pusaran masalahnya. Dalam kebimbangan dan keresahan, ia mencoba menuliskan bait-bait kelemahannya dengan tutur katanya kepada sang Pecinta, puncak segala perjalanan spiritualnya

`Ya Rabb, aku hanyalah seorang hamba. Engkau adalah Rabb yang Maha Perkasa, Kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabb, tak pantas aku menggugat keputusanMu karena Engkau adalah Yang Maha Tahu. Namun Ya Rabb, ijinkan aku untuk meminta belas kasihMu. TanpaMu tiada kuasa diriku. TanpaMu ketegaran itu tak akan tegak. TanpaMu kan goyah langkah kakiku.`

`Ya Rabb, kalaulah memang ini adalah untuk mendewasakanku…..
berikan kelembutanMu………
`Ya Rabb, kalaulah ini untuk meneguhkan kedudukanku di hadapanMu….
kuatkanlah hatiku……….
`Ya Rabb, kalaulah ini untuk memekarkan keridoanku padamu……….
dampingi aku………………………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *