Sahabat Perempuanku

danau

Perempuan itu sahabatku. Sahabat yang dekat. Hampir apapun kisah kehidupan yang kami alami kami share berdua. Dia sekarang tinggal di luar kota bersama suami dan jundinya yang baru lahir. Disebuah pedesaan, yang angkutan saja suah menjangkaunya. Sepi dan terpencil. Biasanya aku harus membawa motor atau mobil untuk mengunjunginya.

Dengan berbekal semangat dan idealisme, setelah menikah dia pindah ke luar kota. Dia dan suami mendapat amanah merintis sebuah sekolah menengah. Banyak duka yang dialaminya meskipun juga banyak suka. Murid yang hanya dalam hitungan jari tangan. Pembangunan gedung yang bahkan suami dan dia sendiri bersama staff yang lain mengerjakannya sendiri. Sumber keuangan yang tersendat-sendat. Bahkan tidak setiap bulan mereka mendapatkan gaji. Dan kalaupun ada, 500ribu pun kadang tidak sampai.

Beberapa bulan setelah menikah, kuingat di menjual handpone yang dimilikinya. Sambil tertawa dia bercerita. Seakan semua kesulitan hidupnya tidak berarti apa-apa. Dia tak pernah mengeluhkan semua yang dia aalami, meski dia selalu masih berbagi tentang semuanya. Tentang perjuangannya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sepi. Tidak ada mobilitas yang tinggi seperti ketika di kota waktu dia kuliah. Tak ada teman bercerita ketika suami bekerja. Tentang teman-teman dan guru ngajinya. Tentang murid-murid smp yang setiap hari menunya hanya tempe dan sayur bening. Namun tak pernah ada keluh kesah dari lisannya. Bahkan dia yang lebih sering memberi nasehat kepadaku.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, justru dia yang lebih sering menghubungi aku untuk menguatkan langkahku. Alhamdulillah sampai saat ini allah masih memberi kami berdua ikatan hati yang kuat. Kalau mendapat masalah datau kegembiraan biasanya tiba-tiba dia merasa perlu sms untuk menanyakan kabarku. Begitupun sebaliknya. Kesulitan ekonomi yang dialaminya pun tak pernah ia ceritakan secra gamblang. Biasanya aku menangkap dari ceritanya. Itupun sepotong-sepotong. Kuingat ketika dia menjelang melahirkan. Dia tidak mengeluhkan berapa biaya yang harus dia siapkan meski belum tentu suaminya siap dengan segalanya, namun hanya satu doa yang dipinta dariku agar allah memberi kelancaran dalam proses kelahirannya.

Masih kuingat nasehatnya ketika aku bercerita tentang saudara kami yang jatuh dari perjalanan dakwah in karena begitu sibuk dengan harta. “ukhti, harta itu bagaikan air laut. Semakin kita minum justru kita akan semakin haus”. Subhanallah, darinya aku bisa belajar bagaimana memaknai hidup. Bagaiaman mengartikan kesederhanaan. Bagaimana memandang hidup ini tidak hanya dengan hanya logika. Tidak hanya dengan hitungan matematika. Bahwa 1+1 = 2. Atau 1-1 = 0. Tetapi senantiasa berfikir, bahwa bisa jadi 1-1 = 700 atau 1 +1 = 1000. Allah pasti akan senantiasa memberi rizky dari arah yang tidak disangka-sangka ketika kita senantiasa berusaha dan tawakal kepadanya. “yakinlah ukh, seperti burung yang diciptakan allah dengan tidak dikaruniai akal sebagiamana manusia. Dia pergi pagi dan pulang petang pasti membawa makanan untuk anaknya. Kenapa manusia tidak bisa qonaah dan tenang menjalani kehidupan sebagaimana ciptaan Allah yang lain”. Itulah pesan terakhir ketika aku berhubungan dengannya.

Ramdhan ini aku belum bertemu dengannya. Hanya lewat sms ataupun telepon. Dan kemarin kami berjanji untuk saling mendoakan dan mengingatkan agar perjalanan kami tidak pernah goyah hanya karena harta. Itulah sahabatku…..yang bahkan ditengah kenaikan bbm dan barang-barang, kemarin dia telepon untuk menawarkan agar aku i’tikaf di kotanya agar dia bisa menyediakan sahur dan buka kami. Seakan dia semakin menegaskan….betapa hidup tidak harus dengan logika dan betapa indahnya hidup sederhana. (syifa)

.: to an-nahl — ana ukhibuki fillah :.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *