Sebuah Eksistensi dan Pertarungan

Dinamika Kemahasiswaan Bukan lah suatu yang perlu di khawatirkan, semua itu ada masa nya dan ada ciri khas nya,Terlepas ada yang ikut mengambil manfaat dari Pergerakan Mahasiswa tersebut baik dalam arti positif (aktualisasi pemikiran,
kultur, gerakan, networking, dll) atau negatif (oportunis), atau dengan katalain adalah alternatif kegiatan selama dalam berstatus mahasiswa atau mengisi luang dan ruang waktu kita untuk merespons keadaan sekitar kita dan diwujudkan dalam sebuah aktualisasi-aktifitasbersamadankebersamaan,sertamengaktualisasikan minat, bakat dan hobi.

Sebagai organisasi Kemahasiswaan harus bisa di bedakan dalam segi formalitas keberadaan yaitu Organisasi Mahasiswa Intra Kampus atau Ekstra KAmpus. KM (keluarga Mahasiswa), BEM (badan Eksekutif Mahasiswa),UKM (unit Kegiatan Mahasiswa), LDK (Lembaga Dakwah Kampus), dll, merupakan organisasi Intra kampus yang eksistensinya di kampus, walupun ruang gerak bisa ke mana saja, ini juga sangat banyak, bisa berdasarkan hobi, kajian, ekonomi, keagamaan,sospol dll, bahkan ada juga yang secara personal afiliasi ke partai atau aktifis partai. Kalau di jepang Lebih menekankan pada aspek aktualisasi hobi dan bakat, sehingga eksisnya sebagai UKM saja.

Sedangkan Organisasi Kemahasiswaan Ekstra Kampus Karena eksistensi nya di luarkampus, yang biasanya mempunyai cabang di tiap kota atau komisariat di masing-masing kampus, dan ruang geraknya lebih fleksible dan berbentuk jaringan. Organisasi ekstra kampus ini sangat banyak sekali baik berdasarkan basis keagamaan, basis sospol atau gabungan nya, seperti hal nya KAMMI (masih tergolong muda 1998), HMI(1947), PMII (1950-an), PMKRI,GMNI, GMKI, LMND(1998), CGMI (udah ngak ada..atau berubah
wujud) dll, Dilihat dari basis “ideologisnya” masing2 punya keunikan masing-masing meskipun ada yang sama akan tetapi interpretasi “ideologis” berbeda-beda, begitu pula dengan yg berbeda basis ideologinya. Akan tetapi dalam hal tataran praksis nya akan menemui persamaan dan tidak jarang semua gerakan
ini akan bersatu dalam satu main isyu, sehingga dapat menggerakan potensi mahasiswa yang berbeda-beda menjadi satu kekuatan yang massive dan ideologis. Dalam pertarungan antar organisasi ekstra kampus ini akan senantiasa terjadi
(kalau di indonesia – red), biasanya dalam saling memunculkan isyu dan mempelopori sebuah isyu, yang kadang kala menelikung dalam sebuah isyu yg akhirnya mendahului yang mnempelopori, ya saling pintar mensiasati.

Pertarungan yang lebih sering adalah di dalam Kampus dimana penguasaan “Pemerintahan Mahasiswa” (student Goverment) menjadi lebih seru bahkan dalam level himpunan atau fakultas dan dalam organisasi keagamaan sekalipun. BIasanya para “alumni” yang sedang berkuasa akan masuk kesendi-sendi kemahasiswaan dengan menjadikan
proxy “personal” mahasiswa agar bisa mengusung ide nya dan didukung oleh gerakan mahasiswa, dan bahkan tidak sedikit yang “dibeli” suara mahasiswa demi penguasa.

Terlepas secara operasional terjadi “Pertarungan” diatas yang bahkan tidak sedikit bentrok fisik, debat bahkan debat kusir, adu-aduan otot, kuat-kuatan melek tidak tidur, saling menculik, bahkan melobi sana sini bahkan main gerakan ambil alih kekuasaaan dan menjatuhkan adalah niscaya, sebenarnya dari “pertarungan” itu tersirat sebuah Pertarungan Aktualisasi diri, pertarungan Ideologis bahkan pertarungan “Oportunis”, dalam segi gerakan dalam pertarungan ini kadang kala diharuskan berafiliasi dengan beberapa organisasi baik di dalam maupun diluar kampus. Pertarungan Aktualisasi diri hanya bersifat sementara pada saat mahasiswa saja, setelah itu kalau tidak menjadi “baut-baut” kapitalis”, ya menjadi “petualang”, Karyawan, dll, setelah itu hilanglah yang namanya idealisme. Pertarungan Ideologis akan tetap bergelora meskipun sudah tidak mahasiswa lagi atau sudah tidak di kampus, dan ini bisa menjadi abadi. Sedangkan Pertarungan para oportunis, ini bisa abadi kalau ngak tobat, bisa sebenta saja kalau ngak ada proyek ya, selesai lah, atau segera ber tobat..smile…

Banyak nya aktifitas kemahasiswaan terlepas dari latar belakang gerakan dan networking bahkan afiliasi personal seorang aktivis mahasiswa. Perlu Di tegas kan Bahwa Secara Eksistensi Organisasi Kemahasiswaan baik intra kampus maupun dalam kampus harus “steril” dari afiliasi Parpol manapun, jangan di bawa mereka menjadi underbow siapapun, biarkan mengalir dengan sendirinya, dan di stir oleh hati nurani dan kepedulian kepada sekitarnya. Apabila ada yng berafiliasi secara personal kepada PARPOL adalah hak seseorang, tapi jangan atas namakan organisasi, atau paling tidak dia harus mengundurkan diri dari pengurus Organisasi ke mahasiswaan. Memang sukar memisahkan independensi Manusia terhadap sesuatu, tapi paling tidak dalam eksistensi organisasi jangan sampai terseret pada Underbow Parpol, kalau pun mengusung ide-gagasan adalah hasil kreasi
mahasiswa itu sendiri meskipun dalam tataran praktis nya dalam menggolkan ide-gagasannya bisa ber”irisan” gerakannya dengan ORMAS atau PARPOL atau Orsospol, tetapi jangan sampai yang memegang isyu bahkan titipan ide-gagasan dari “orang-lain”, Mahasiswa harus leading membawa isyu itu sendiri meskipun
mereka harus sendirian tanpa bantuan orang lain. Ingat Bahwa Para oportunis akan memanfaatkan gerakan mahasiswa, begitu pula tidak jarang Parpol dan “NGO-mpol”. Maka Berhati hatilah akan hal itu, karena pada prinsipnya ” who use whom” siapa memanfaatkan siapa atau siapa di
manfaatkan siapa.

Idealismenya, kritis, stamina yang kuat, independen, kreatif dan semangat yang tinggi dan bersifat volounteer. Ciri lain yang menjadi Khas Organisasi kemahasiswaan yang terutama yang mendeklarasikan dirinya sebagai yang konsern kemasalah sospol baik di intra kampus maupun ekstra kampus adalah Semangat Anti
kemapanan dan kesewenang-wenangan, Berani dan bertanggung jawab atas resiko. Dan Selamanya Mahasiswa akan menjadi OPOSISI abadi bagi Pemerintah Yang berkuasa atau Kekuatan yang bertindak sewenang-wenang meskipun senjatanya bukan Tank,”bedil”, peluru apalagi panser dan juga bukan karena duit, akan tetapi bersenjatakan Ide-gagasan dan hati nurani, yang bersendikan Keberanian dan keikhlasan, yang bertahtakan mutiara Perjuangan untuk RAKYAT dan bela ketertindasan, hapus ketidak adilan, runtuhkan kezhaliman, Perjuangan demi kebenaran. Tapi yang jelas bahwa nilai perjuangan diatas meskipun tidak memasuki
di gerbang organisasi kemahasiswaan, bersendirian pun kita akan bisa bergerak meskipun tidak efektif.

Tapi jangan lupa juga Profesionalitas masing2 harus terjaga yang artinya kita menjadi seorang ahli di bidangnya, dan mempunyai jiwa responsif terhadap sekitar dan ikut memikirkan arah negeri ini dan bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat adil dan makmur. Jadi lah Seseorang yang Profesional dan intelektual
yang progressive. Bagaimana dengan Kemahasiswaan di jepang? Baik berkaitan dengan profesi, media, komunitas atau Kemahasiswaan yang semuanya di motori seorang mahasiswa. Kalau bukan kita siapa lagi? Nah loh PPI gimana? PMIJ, etc
???

Sedikit penutup Perjalanan manusia dari Idealis, lalu Pragmatis, lalu romantis dan pada akhirnya realistis. Realistis adalah sikap yang tetap mempertahankan idealisme, dengan memperhitungkan pragmatisme dan dibalut dengat sentuhan romantisme ( kasih-sayang, persaudaraan, kelembutan dan pengorbanan, etc), tanpa
itu semua kering rasa nya hidup apalagi dari lab-ke lab, dari kantor ke kantor dari rumah pulang ke rumah, dari milist ke milist..ups…

wasalam

SP
“Antara Romantisme dan Realisme”

2 Comments

  1. angga

    September 18, 2015 at 11:06 am

    Saya tertarik dengan artikel yang anda buat
    Saya juga mempunyai web serupa tentang Program Kreativitas Mahasiswa PKM anda dapat mengunjungi http://kemahasiswaan.gunadarma.ac.id/ untuk info lebih lanjut mengenai Program Kreativitas Mahasiswa PKM

  2. marselianadwi

    June 22, 2016 at 9:13 am

    makasih posnya ya semoga bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *